Oleh Romo Inosensius Sutam
Kerahiman ilahi: dalam luka-luka Yesus, yang menjadi rahim hidup baru, luka-luka kita ditransfomasi dari arah lubang kubur dendam, irihati, benci, dan yang memayatkan sesama menjadi lubang yang siap menerima benih kehidupan yang berakar, bertumbuh, menjadi naungan dan berbuah lebat.
(Minggu Paskah II Tahun A; 12 April 2026; Kis 2:42-47: Mzm 118:2-4.13-15.22-24. R:1; 1 Ptr 1:3-9; Yoh 20:19-31)
Hari ini, Minggu II Paskah, Gereja sejagat merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Hal ini ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II, 30 April 2000. Pada tanggal yang sama, paus menetapkan kanonisasi Santa Maria Faustina Kowalska asal Polandia yang mempunyai pengalaman spiritual kerahiman ilahi. Ini adalah sumbangan spiritual besar bagi Gereja Katolik. Bacaan hari ini menggambarkan transformasi dan pertobatan karena hidup yang murah hati yang mengalir dari kerahiman Allah. Rujukan utama kerahiman Tuhan adalah Injil Yohanes 20:19-31 yang menjadi puncak bacaan suci hari ini.
Dalam bacaan pertama (Kis 2:42-47), kita melihat cara hidup jemaat perdana. (1) Mereka beriman dan dibaptis. (2) hidup sehati dalam persekutuan. (3) Dasarnya adalah ekaristi/pemecahan roti dan kesetiaan pada ajaran para rasul. (4) Tulus hati dan murah hati yang ditandai membuka pintu rumah untuk ekaristi dan menjual harta milik menjadi milik bersama. (5) Dampaknya: mereka disukai banyak orang dan jumlahnya bertambah. Kelima cara hidup ini adalah karya Tuhan yang murah hati dan maharahim.
