Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
4—Menuju Agama Trans-Sosiologis: Sebuah Terobosan Saintifik Awal
Hadirin yang budiman,
Saya berusaha mengembangkan sintesis teoretis dan praktis secara singkat berdasarkan keempat
tren diskursif tersebut. Saya mencoba menarik keempat dimensi ini ke dalam perdebatan
sosiologis yang “sedikit” lebih luas. Tujuannya adalah menempatkannya dalam teori klasik dan
kontemporer sambil mengklarifikasi signifikansi praktisnya.
Degradasi lingkungan bukan semata-mata masalah teknis atau moral. Krisis ekologis
mendedahkan keretakan struktur, budaya dan peradaban yang melampaui batas-batas disiplin
ilmu konvensional. Post-antroposen mengusung tuntutan saintifik. Kita berhadapan dengan
konstelasi peradaban yang membutuhkan respons sosiologis yang integratif.67 Sebuah kondisi
ontologis yang memaksa sosiologi agama untuk menempuh jalan trans-teoretik. Kajian ini
menawarkan sumbangan kepada sosiologi agama dengan mengusulkan kerangka analitis trans
sosiologis—yang dianggap sesuai dengan kontur era pasca-antroposen. Sosiologi agama niscaya
melibatkan tiga dimensi yang saling terkait, termasuk analisis makrostruktural, epistemologi
moral, dan materialitas planet dalam satu cakrawala interpretatif.
