Kehancuran Rezim Belajar dari Raja Yosia

Penulis: Fardinandus Erikson (Peminat Karya Pendidikan Kutai Barat)



Raja Yosia Penakluk Nostalgia.

Raja Yosia (Tuhan Menopang/Allah yang menyembuhkan)  memerintah di Kerajaan Yehuda pada masa ketika kebenaran sudah lama terlupakan. Bait Allah terbengkalai, hukum Tuhan tidak lagi diketahui, dan rakyat hidup tanpa pegangan yang benar. Namun ketika Kitab Hukum Tuhan ditemukan kembali saat perbaikan Bait Allah, Yosia mendengar isinya lalu ia merobek pakaiannya sebagai tanda kepedulian dan pertobatan. Ia sadar bahwa ketidakberesan yang terjadi bukan salah rakyat saja, melainkan akibat para pemimpin sebelumnya yang membiarkan kebenaran ditinggalkan dan keadilan diabaikan. Semua rezim terdahulu yang menjauh dari Tuhan akhirnya runtuh, sekalipun pernah tampak makmur dan berkuasa.

Yosia bin Amon  juga menunjukkan bahwa kekuasaan yang menyadari kesalahan dan bertobat masih dapat dipertahankan. Ia tidak membenarkan keadaan yang sudah terlanjur buruk, tidak melanjutkan kebiasaan buruk leluhurnya, dan tidak menutup mata terhadap kenyataan. Ia segera melaksanakan pembaharuan: memulihkan ibadah, menegakkan keadilan, dan mengembalikan hak-hak umat. Namun kisah ini juga memperingatkan: sekalipun seorang penguasa bertobat dan memperbaiki keadaan, dampak kejahatan rezim-rezim sebelumnya tidak selalu hilang seketika. Kerusakan yang sudah lama dibiarkan berlangsung memerlukan waktu dan kesetiaan yang panjang untuk dipulihkan. Bahkan pada masa Yosia sendiri, ancaman kehancuran masih ada sebagai akibat dari dosa-dosa masa lampau. Raja yang tiada taranya “Sesudahnya tidak ada raja yang sepertinya, yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, segenap jiwanya, dan segenap kekuatannya” (2 Raja-raja 23:25)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *