Minum Racun; Refleksi dari Keniscayaan Socrates

Penulis: Fardinandus Erikson (Peminat Karya Pendidikan di Kutai Barat)



Socrates, filsuf yang hidup sederhana di Athena dan menghabiskan hidupnya hanya dengan bertanya, mengajak warga memeriksa kebenaran, keadilan, dan makna hidup. Namun justru karena itulah ia dituduh merusak pikiran pemuda serta tidak menghormati dewa-dewa kota, lalu diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun konium; Racun ini mematikan mulai dari bagian kaki hingga akhirnya paru-paru rusak. Racun itu pahit dan menyakitkan, tetapi Socrates menanggungnya tanpa amarah, tanpa mengutuk, tanpa mencoba lari. Justru itulah yang membuat keteguhannya begitu mengesankan.

Meskipun teman-temannya telah menyiapkan jalan pelarian dan memohon agar ia lari, ia menolak dengan tegas, menyatakan bahwa ia telah menikmati perlindungan dan kesepakatan hukum negerinya seumur hidup, sehingga tidak pantas melanggarnya hanya ketika keputusan merugikan dirinya, lalu dengan tenang, tanpa amarah, tanpa dendam, dan tanpa mencoba memutarbalikkan aturan demi keuntungan sendiri, ia meminum racun itu hingga habis, mempertahankan prinsip bahwa menghormati kesepakatan dan batas hukum adalah kewajiban tertinggi, sekalipun harus membayarnya dengan nyawa sendiri.



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *