Cahaya di Balik Hujan – Pojok Bebas

Oleh: Adela Sutria Wati, Siswi SMAS St.Gregorius Reo


Di sebuah rumah sederhana berdinding krem yang mulai memudar, hiduplah sebuah keluarga kecil yang hangat. Rumah itu tidak besar, tetapi terasa penuh—bukan karena barang mewah, melainkan oleh suara tawa, doa, dan perdebatan kecil yang tulus.

Di dalam rumah itu tinggal Ayah, Ibu, dan dua anak perempuan mereka, Diana yang duduk di bangku kelas 3 SMA, serta Wati, adiknya yang masih kelas 1 SMP,seorang gadis polos, sensitif, ceria, dan penuh rasa ingin tahu.

Setiap hari, Ayah bekerja sebagai penjual bakso. Ia mendorong gerobaknya berkeliling kota dengan topi dan sapu tangan panjang yang melilit di leher untuk menghalau peluh. Sementara itu, Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang dengan penuh kasih melayani kebutuhan suami dan anak-anaknya. Mereka hidup bersahaja dari penghasilan gerobak bakso tersebut.

Suatu malam, hujan turun sangat deras disertai angin kencang membuat jendela bergetar pelan. Tiba-tiba, listrik padam.

“Yah… mati lampu lagi,” keluh Wati.

Diana mendesah kecil. “Padahal aku mau belajar untuk persiapan ujian.”

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *