Oleh Nurdin, Putra Manggarai Perantau di Makassar.
Hari ini, pada momentum Hari Pendidikan Nasional, kita kembali diajak merayakan pendidikan. Namun, di balik seremoni dan slogan yang berulang setiap tahun, ada kegelisahan yang tidak bisa lagi kita sembunyikan: mengapa di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masih begitu banyak anak-anak kita yang tertatih-tatih dalam kemampuan dasar; membaca, menulis, dan berhitung?
Ini bukan sekadar soal angka kelulusan. Ini tentang kualitas manusia yang kita bentuk. Kita seperti sedang menyaksikan sebuah paradoks: sekolah semakin megah, teknologi semakin canggih, kurikulum semakin sering diperbarui, tetapi fondasi paling dasar justru rapuh.
Jika pendidikan adalah rumah masa depan, maka kita sedang membangunnya di atas tanah yang belum benar-benar dipadatkan.
Saya ingin membawa kita sejenak kembali ke masa lalu, masa yang mungkin dianggap sederhana, bahkan tertinggal. Saya, seperti banyak anak kampung lain yang lahir di tahun 70-an, tumbuh dalam keterbatasan fasilitas. Tidak ada gawai, tidak ada internet, tidak ada bimbingan belajar. Tetapi ada sesuatu yang hari ini terasa semakin langka: kesadaran dan semangat belajar yang tumbuh dari dalam.
