Kehancuran Bermula dari Kesombongan; Refleksi atas Tragedi Niniwe

Penulis: Fardinandus Erikson (Peminat Karya Pendidikan di Kutai Barat)



Niniwe berdiri di tepi Sungai Tigris sebagai ibu kota Kerajaan Asyur. Kota yang berbenteng tebal, kaya raya, dan diakui sebagai pusat kekuasaan paling ditakuti pada masanya. Penduduknya merasa berdiri di atas segala ancaman, meyakini kedudukannya dijamin oleh kekuatan sendiri semata, bukan oleh Allah; di dalam hati mereka berkata: “Aku, dan tidak ada yang lain.” Di balik kemegahan tembok ganda, parit air yang lebar, serta kemewahan istana, tersembunyi akar kehancuran yang paling dalam yaitu  kesombongan yang menutup mata hati, membuat mereka lupa bahwa apa yang paling tinggi pun dapat diruntuhkan, dan keamanan yang dibangun di atas kekuatan senjata akhirnya akan runtuh oleh senjata pula. Mereka tidak menyadari bahwa waktu pertobatan sedang berlalu tanpa sempat disambut.

Pada tahun 612 SM, kota yang merasa tak tertembus itu akhirnya dikepung oleh pasukan gabungan Kerajaan Babilonia (di wilayah Irak-saat ini) dan Kerajaan Media (wilayah Iran barat laut sekarang).  Dua kekuatan ini menyusun strategi bersama, memutus jalur masuk dan persediaan pangan hingga pertahanan melemah; ketika benteng akhirnya jebol, api menjalar ke seluruh bangunan utama, istana terbakar, dan tumpukan harta yang dikumpulkan berabad-abad diangkut sebagai jarahan. Kekuasaan yang dulu menindas bangsa-bangsa di sekitarnya berakhir tanpa ada sekutu yang datang menolong. Kota yang dulu bergema dengan suara prajurit dan perdagangan kini berubah sunyi; burung undan dan burung bangau bermalam di puncak tiangnya, burung hantu bersuara dari tingkap yang kosong, dan kayu aras yang dijaga sebagai lambang kemegahan terbongkar tergerus waktu.



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *