Pengosongan Diri: Diberi Punggung Keledai vs Memberi Punggung untuk Salib

Oleh Rm. Inosensius Sutam


Pelaku kejahatan dan korbannya telah masuk dalam rantai dan logika kekerasan. Logika konflik, perang, benci, dengki, irihati, dan balas dendam. Inilah akar dari dosa pertama. Virus dan benih dosa ini harus diputuskan. Maka Yesus mengosongkan diri untuk menjadi sebiji benih yang rela masuk ke dalam bumi ini. Merebut perut ibu bumi dan semesta dari benih-benih dosa dengan mengembangkan akar benih damai.

(Minggu Palem, Tahun A; 29 Maret 2026; Yes 50:4-7; Mzm 22:8-9.17-18a.19-20;23-24; ul:2a; Filp 2:6-11; Mat 26:14-27:66)

Hari ini kita merayakan minggu palma/palem. Satu hal yang kita saksikan dalam perayaan hari minggu ini adalah manusia sering berubah secara ekstrim. Dari senang, gembira, bahagia menjadi sedih, putus asa, dan frustrasi; dari memuji, mengelu-elukan ke sikap benci dan dengki yang ekstrim. Orang lain akhirnya menjadi korban dank urban. Itu kita saksikan dalam bacaan dan kisah sengsara hari ini.

Dalam bacaan pertama (Yes 50:4-7), kita mendengar sifat dan kualitas seorang hamba Yahwe.
(1) Dia seorang murid: dia belajar banyak hal dan disiplin.
(2) sebagai seorang murid, dia menggunakan lidah yang fasih untuk mewartakan Sabda Tuhan dan memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.
(3) dalam mewartakan Sabda, maka Ia harus menggunakan telinganya untuk mendengar Tuhan.
(4) dia juga mempunyai hati yang teguh seperti gunung batu yang menjadi saksi kebenaran Tuhan. Ia tidak lari dari kesengsaraan dan memberikan badannya untuk disiksa. Badannya rusak, namun hatinya menjadi baja hidup, gunung batu.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *