Oleh Hendrikus Maku, SVD, Pegiat Dialog Lintas Agama
Dengan hari Minggu Palma mulailah Pekan Suci. Gereja disucikan oleh penebusan Kristus melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Pekan Suci bukanlah “pekan duka”, sebab yang diselebrasikan adalah Kemenangan. Kristus menang atas dosa dan maut. Minggu Palma, peringatan akan Yesus Raja Damai memasuki kota Yerusalem adalah juga undangan bagi Gereja untuk mempersiapkan Paskah dengan hati yang jernih, rendah, dan siap dibaharui. Lambaian daun palma adalah simbol keheningan batin, di dalamnya Gereja disadarkan bahwa damai sejati tidak pernah lahir dari hawa nafsu dan kesekarahan, tetapi dari keberanian memilih kelembutan di tengah hiruk-pikuk dunia. Melalui tanda sederhana itu, umat disapa untuk melihat kembali dunia yang letih oleh konflik dan menyadari bahwa kedamaian tidak jatuh dari langit; ia tumbuh perlahan dalam hati yang rela ditata, disembuhkan, dan dipulihkan oleh kasih. Dalam keteduhan daun palma, Gereja belajar bahwa damai dimulai dari dalam — dan dari sanalah ia menemukan jalannya menuju dunia.
