Oleh Hendrikus Maku, SVD
Tepat pukul 17.43 WITA, pada Sabtu (22/08/2026) kapal feri yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Pelabuhan Geliting menuju Pulau Palue. Di atas kapal itu, sebanyak 25 anggota Tim Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) SVD Ende bergabung dengan para relawan dari berbagai lembaga dan komunitas yang memiliki tujuan yang sama: menghadirkan harapan bagi saudara-saudari di Palue yang terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu pulau ke pulau lain. Ia adalah perjalanan kemanusiaan, perjalanan hati yang digerakkan oleh kepedulian terhadap sesama yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Di tengah duka dan kecemasan yang dialami warga terdampak, kami membawa bantuan berupa beras, mi instan, air minum, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya yang diharapkan dapat sedikit meringankan beban mereka.
Namun sesungguhnya, bantuan yang kami bawa bukan hanya berasal dari tangan-tangan para relawan yang ikut dalam perjalanan ini. Di balik setiap karung beras, setiap dus mi instan, dan setiap paket obat-obatan, terdapat ketulusan hati para donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya demi membantu mereka yang sedang membutuhkan. Kami hanyalah “pipa penyalur” berkat. Kebaikan yang mengalir kepada warga Palue berasal dari begitu banyak orang yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan para penerima bantuan, tetapi memilih untuk peduli dan berbagi.
