Oleh Pascual Semaun, SVD, Misionaris dari Reok Barat, Keuskupan Ruteng, di Paraquay-Amerika Latin
Saudara-saudari terkasih,
Ketika terjadi gempa bumi magnitude 7,7 berpusat di Mbay, Nagekeo, pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, tidak hanya terjadi satu kali guncangan. Setelah gempa pertama, datang lagi gempa-gempa susulan. Belum sempat hati menjadi tenang, bumi kembali berguncang. Ketakutan muncul lagi. Kecemasan datang lagi. Rasa aman yang baru saja coba dibangun, kembali runtuh. Dalam situasi itu, saudari saya, Maria Tatastiati, di Kampung Tureng, Reo Barat–Manggarai, secara spontan berseru: “Dee Mori, emo gah” : “Aduuuh Tuhan, cukup sudah!”
Kalimat itu lahir dari hati yang sudah lelah dan penuh ketakutan. Namun, ungkapan hati saudariku Maria bukan hanya ungkapan pribadinya. Ungkapan itu menjadi suara hati ribuan keluarga yang menderita dan terdampak oleh gempa ini: keluarga-keluarga yang ketakutan, kehilangan rasa aman, dan terus menghadapi guncangan serta gempa susulan.
Seolah-olah mereka berkata: “Tuhan, cukup sudah. Tolong, hentikanlah gempa ini. Kami sudah takut. Kami sudah cukup menderita.”
