Catatan tentang Pembukaan Sekolah Darurat di Tengah Trauma Pascagempa
Oleh Pius Jemadu, S.Fil, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Manggarai
Pembukaan kembali sekolah setelah gempa bumi tentu merupakan sebuah langkah yang penting. Anak-anak membutuhkan pendidikan, rutinitas, interaksi dengan teman sebaya, dan ruang untuk perlahan-lahan kembali kepada kehidupan normal. Dalam situasi bencana, sekolah bahkan dapat menjadi ruang yang memberikan rasa aman, dukungan psikososial, pengetahuan, dan harapan kepada anak. UNESCO menegaskan bahwa pendidikan dalam situasi darurat bukan hanya soal melanjutkan pelajaran, tetapi juga memberikan perlindungan, stabilitas, dan dukungan psikososial bagi anak-anak yang mengalami krisis.
Namun, ada satu pertanyaan kritis yang tidak boleh diabaikan: apakah sekolah memang sudah siap menerima kembali anak-anak ketika sebagian guru dan peserta didik masih berada di tenda pengungsian, masih mengalami trauma, dan terutama ketika sekolah tersebut berada dekat dengan pusat gempa?. Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap pembukaan sekolah. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan anak. Jangan sampai semangat untuk mengembalikan anak ke bangku sekolah justru membuat kita terburu-buru mengabaikan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan keamanan mereka.
