Penulis: Hendrikus Maku, SVD (Dosen IFTK Ledalero, Tinggal di Pusat Penelitian Agama dan Budaya, Candraditya)
Indonesia hari ini menghadapi paradoks yang mengkhawatirkan. Di tengah semakin kuatnya seruan tentang persatuan, ruang publik justru diwarnai oleh berbagai bentuk superioritas identitas, baik atas nama agama, politik, etnisitas, maupun status sosial. Media digital yang semestinya memperluas ruang perjumpaan sering kali memperkuat polarisasi melalui echo chambers, yakni ruang komunikasi yang membuat orang semakin akrab dengan kelompoknya sendiri dan semakin jauh dari mereka yang berbeda.
Dalam konteks seperti ini, pesan Rasul Paulus kepada umat di Korintus terdengar sangat relevan:“Apa yang bodoh bagi dunia dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat” (1Kor. 1:27). Ayat ini bukan sekadar pesan spiritual, melainkan kritik terhadap logika dunia yang mengukur manusia berdasarkan prestasi, kekuasaan, dan pengaruh. Allah justru bekerja melalui mereka yang dianggap kecil, lemah, dan tidak penting menurut ukuran manusia.
Ketika mensyukuri tujuh belas tahun perjalanan imamat, saya semakin menyadari bahwa panggilan bukanlah kisah tentang keberhasilan pribadi, melainkan tentang kesetiaan Allah yang berkarya melalui keterbatasan manusia. Semakin panjang perjalanan itu, semakin jelas bahwa yang menopang pelayanan bukanlah kemampuan diri, melainkan rahmat Tuhan.
