Oleh Pascual Semaun, SVD & Sr. Fransiska Jenina, SSpS (Misionaris di Paraguay-Amerika Latin)
Pendahuluan: dunia dalam krisis peradaban
Krisis yang sedang dialami dunia saat ini tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan
masalah teknis atau ekologis yang terpisah. Kita sedang menghadapi krisis peradaban, yaitu
krisis cara manusia memahami dirinya, alam, dan Tuhan. Leonardo Boff menyebut akar krisis
ini sebagai paradigma dominasi, yakni logika modern yang mengubah segala sesuatu—alam,
manusia, bahkan kehidupan—menjadi objek eksploitasi (Boff, 1996).
Paradigma ini melahirkan kultur kematian, yaitu sistem global yang secara struktural merusak
kehidupan (Boff, 1996). Dampaknya tidak abstrak, tetapi sangat nyata dalam sejarah
kontemporer.
Kita melihatnya dalam krisis iklim global, di mana suhu bumi terus meningkat, es di kutub
mencair, dan bencana alam semakin ekstrem. Kita melihatnya dalam deforestasi Amazon,
yang oleh Boff disebut sebagai “paru-paru dunia” yang terus dihancurkan oleh kepentingan
ekonomi.
Kita juga melihatnya dalam ketimpangan global, di mana sebagian kecil populasi dunia
menguasai sebagian besar kekayaan, sementara jutaan orang hidup dalam kelaparan dan
kemiskinan ekstrem. Bahkan, laporan organisasi internasional menunjukkan bahwa produksi
pangan dunia cukup untuk semua orang, tetapi distribusinya tidak adil.
