Oleh Emilianus Jehadus, M.Pd, Dosen Unika Santu Paulus Ruteng / [email protected]
“Mahasiswa mampu mengalikan matriks dengan cepat, tetapi tidak mampu menjelaskan mengapa transformasi itu bermakna.”
Abstrak
Perkuliahan Aljabar Linear pada mahasiswa semester 3 Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng di Kabupaten Manggarai menghadapi tantangan berupa kecenderungan pembelajaran mekanistik dan ketergantungan mahasiswa pada teknologi penyelesaian soal. Tulisan ini merupakan narasi reflektif atas implementasi pendekatan experiential learning dan pedagogi kritis dalam kelas Aljabar Linear. Berangkat dari realitas mahasiswa yang pasif dan berorientasi pada hasil akhir, dosen merancang intervensi berupa masalah kontekstual berbasis pengalaman lokal, diskusi argumentatif, refleksi tertulis, tugas penalaran personal, serta visualisasi konseptual. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran berpikir kritis, tanggung jawab akademik, serta kemampuan menjelaskan konsep matematis secara mendalam. Hasil implementasi menunjukkan perubahan sikap mahasiswa: meningkatnya keberanian berdialog, kemampuan menjelaskan makna transformasi, serta penggunaan teknologi yang lebih reflektif. Pembelajaran Aljabar Linear tidak lagi sekadar menguasai prosedur, tetapi menjadi ruang pembentukan nalar kritis dan kedewasaan intelektual calon guru matematika.
