Oleh Romo Inosensius Sutam
Manusia berwajah tunggal akan melestarikan alam sama seperti punggung, janggut, dan wajahnya sendiri. Yang berwajah ganda akan menghancurkan gunung sama seperti ia memukul punggung Hamba Yahwe. Ia akan menghancurkan pohon-pohon hutan sama seperti ia mencabut janggut Hamba Yahwe. Ia akan mengotori lingkungan sama seperti ia menodai dan meludahi wajah Hamba Yahwe*.
(Rabu, Pekan Suci, Tahun A; 1 April 2026; Yes 50:4-9a; Mzm 69:8-10.21-22.31-34; R:14cb; Mat 26:14-25)
Manusia sering berwajah ganda. Artinya penipu, munafik, pengkhianat, agen ganda, provokator, pelaku kekerasan, lain depan, lain belakang. Di sisi lain ada yang berwajah tunggal: jujur, lugu, jernih, setia, dll. secara fisik yang pertama memakan yang kedua. Secara spiritual yang kedua menyelematkan yang pertama. Bacaan hari ini menunjukkan hal itu.
Dalam bacaan pertama (Yes 50:4-9a), Tuhan Allah menganugerahkan kepada Hamba Yahwe kefasihan berbicara, ketajaman mendengar, kekuatan untuk bertahan, keteguhan hati, keberanian berdebat secara terbuka, dan pertolongan dalam penderitaan karena perutusannya. Dekat dan bersatu dengan Tuhan dalam roh dan hati menyebabkan seseorang setia dan bertahan dalam penderitaan fisik. Mau bersaing dan bertanding dengan akal sehat dan jiwa murni. Tidak mau menyakiti orang lain. Malah ingin menyelamatkannya. Sebaliknya, jauh dari Tuhan, seperti lawan dari para Hamba Yahwe yang anonim, akan menjadi orang brutal. Mau menyembunyikan wajah sambil menampar wajah sesama.
